Baru saja membuka email dan mendapat undangan nobar gratis dan diskusi tentang satwa dari team Kongkow Ijo di Jakarta.


Film yang di tonton berjudul BlackFish, tetang "Paus Pembunuh" yang bernama Tilikum yang telah menghabisi 3 nyawa manusia.


Mengingatkan saya pada kejadian mengenaskan pada pesulap terkenal Roy yang diterkam oleh macan kesayangannya dalam sebuah pertunjukan di tahun 2003 lalu.



Memang menarik bagaimana kita merespon, bila sang kanivora sejati itu melahap manusia, kita menyebutnya kejam; namun tidak sebaliknya, jika manusia menjadikan perutnya sebagai kuburan para binatang.



Film Blackfish yang akan didiskusikan besok malam bukan bercerita tentang gaya hidup Vegetarian, melainkan cerita tentang apa yang terjadi dibalik pertunjukan satwa yang luar biasa.


Saya dan saya rasa hampir semua dari kita paling tidak, pernah terkagum-kagum ketika melihat pertunjukan sirkus.
"Bagaimana mereka bisa melatih binatang yang liar tak terkendali itu melakukan apa yang pawang inginkan?" adalah pertanyaan sejuta umat.

"Pasti dengan kesabaran dan cinta kasih" kata seorang teman.


Tolak ukur yang dipakai teman itu adalah melihat gerakan satwa yang atraktif dan sorot mata berbinar dari pelatihnya.



Di balik semua image bahagia yang terbentuk di panggung pertunjukan, bukan saja tidak indah namun acapkali kekejian terjadi.


Mulai penangkapan para hewan itu, pengkandangan, pemberian makan dan penyiksaan berupa pukulan, tusukan bahkan setrum pun dijadikan sebuah alternatifnya, semua perbuatan diatas bertujuan pada satu kata "menurut".



Semoga kesimpulan saya salah, setelah menjalani dan mengamati kehidupan sekitar saya berani mengatakan bahwa ras manusia ini "gila" akan keinginan mengontrol.

Keinginan ini sering menjadi obsesi, semua berasal karena kita mengharapkan kejadian seperti yang kita inginkan. 



Dalam skala besar kita melihat bagaimana pemerintah membuat kartu identitas yang semakin hari semakin gampang terlacak keberadaan penduduknya.


Industriawan menciptakan sistem dimana konsumen menjadi tergantung oleh produk-produknya.

Para pimpinan akan menari girang bila semua karyawannya menurut, dan tentu yang akan saya bahas lebih panjang dan yang paling tak terbantahkan adalah orangtua pada "Piaraan kecilnya" tentunya.



Siapa yang tidak suka anaknya nurut?, bahkan di berbagai kesempatan arti/makna kata 'Cerdas' bagi para orangtua adalah anak yang menuruti perintah ortu/guru.


Lihatlah masyarakat yang memuji seorang anak kecil sebagai anak pintar ketika mau salim, senyum dan kiss bye bila disuruh. 


Bahagianya jadi ortu bila anak disuruh makan, makan, diminta tidur juga ia langsung cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi dan tidur setelah berdoa.


Apalagi bila sudah gedean disarankan untuk masuk ke fakultas tertentu dan anaknya setuju.



Bagi orangtua yang berkeyakinan anak harus nurut pada apapun yang dikehendaki orangtuanya, sahabat saya punya saran "Jangan punya anak tapi belilah robot".


Mirip seperti para pekerja manusia yang tergantikan oleh mesin karena para investor menginginkan kontrol yang lebih leluasa dan gampang bukan?



Jangan disalah artikan bahwa kita sebagai ortu tidak perlu mengajarkan etika, moral atau nilai-nilai luhur, semuanya adalah wajib bagi orangtua, namun semua menjadi tidak produktif ketika kita memilih jalan memaksa anak.



Jangan sampai kisah-kisah di balik panggung sirkus terjadi pada seorang anak.

Michael Jackson mungkin salah satu contoh sempurna bagaimana ayahnya yang terobsesi menjadi terkenal dan mungkin kaya melampiaskan keinginannya pada anak-anaknya.

Jakson Five tampil prima dipertunjukan, MJ kecil disebut anak ajaib, tapi ada harga yang sangat mahal dibalik ketenaran tersebut.



Saya percaya bahwa setiap orangtua pasti bermaksud baik, apalagi pada anak tercintanya, mereka ingin anaknya menjadi orang besar, hebat, sukses, kaya atau apapun sebutannya.

Saya juga bisa memahami bahwa Orangtua pasti mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang menjalani hidup daripada anak dan merasa mengetahui apa yang baik dan tidak.



Akan tetapi diatas semua itu yang diperlukan adalah sebuah kesadaran, bahwa anak atau pasangan disamping kita adalah individu yang mempunyai kebebasan dalam memilih jalan hidupnya.


"Anakmu bukanlah milikmu" adalah tulisan dengan makna spiritual cukup dalam yang tidak hanya perlu dibaca melainkan dihayati oleh setiap orangtua.



Educare adalah bahasa latin dari Education yang artinya "menarik keluar".


Tujuan pendidikan adalah menarik keluar potensi, bakat dan minat anak yang luar biasa yang terpendam didalamnya.


Dan menurut saya hal yang paling awal dan alami yang diperlukan untuk semua makhluk hidup agar bertumbuh adalah ruang dan waktu.



Memberikan ruang bertumbuh dan orangtua hadir di saat ini adalah 2 pondasi emas di masa keemasan seorang anak.


Anak dilahirkan di rumah dunia, bukan dipanggung pertunjukan. 


Dalam besaran proporsi, selayaknya lebih banyak kita sebagai orangtua yang belajar daripadanya dibanding sebaliknya
Ia datang dengan kebijaksanaan yang jauh lebih tinggi, hidup di saat ini, melihat tanpa menghakimi, tersenyum tulus, tidur nyenyak dan jutaan kebijaksanaan lainnya.



Sayang sekali bila ego kita yang bermuara dari kecanduan kita akan pujian, penghargaan, penerimaan, dan keinginan terlihat sebagai orangtua hebat bertransformasi menjadi kehendak kuat untuk memaksa si kecil yang murni.



Keharmonisan bukan dicapai dengan mengontrol apalagi memaksa. 


Alam telah mengajarkan kita semua untuk menikmati proses melepas.


Biarkan ikan berenang, monyet memanjat, singa mengaum, burung mengangkasa dan seorang anak menjadi seorang anak, semua mengalir sempurna oleh tuntunan takdir semesta.